Menakar Ulang dan Ketimpangan Lahan hingga Krisis Sungai
0

Menakar Ulang dan Ketimpangan Lahan hingga Krisis Sungai


Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kabupaten Jombang menggelar diskusi dan bedah buku bertajuk #ResetIndonesia di Rumah Merdeka (Rudeka) Indonesia, Kelurahan Jombatan, Jumat (26/12/2025) sore. Acara ini menjadi ruang refleksi kritis bagi ratusan peserta dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa, mulai dari krisis ekologi hingga kebijakan yang dinilai belum berpihak pada rakyat.

Literasi sebagai Senjata Perubahan

Ketua FTBM Jombang, Luqman Hakim, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan upaya meningkatkan literasi dan kapasitas SDM masyarakat Jombang. Dengan menghadirkan unsur pemerintah daerah seperti Dinas Perpustakaan dan Bunda Literasi, ia berharap ada kesamaan pandangan mengenai substansi buku tersebut.

"Kegiatan ini kami rancang sebagai refleksi bersama, termasuk bagi pemerintah daerah, agar arah kebijakan ke depan bisa lebih berpihak pada keberlanjutan hidup masyarakat," ujar Luqman.



Suara dari Pinggiran: Catatan Farid Gaban

Penulis utama buku #ResetIndonesia, Farid Gaban, memaparkan temuannya selama perjalanan "Ekspedisi Indonesia Baru". Ia menyoroti adanya masalah struktural yang mendalam di tanah air:

  • Ketimpangan Agraria: Penguasaan lahan masih didominasi korporasi besar, sementara masyarakat kecil kesulitan mendapatkan akses tanah untuk bertani atau tempat tinggal.

  • Ekonomi Eksploitatif: Farid mengkritik ketergantungan ekonomi pada sektor pertambangan yang merusak alam. Menurutnya, fondasi ekonomi berkelanjutan seharusnya berbasis pada keanekaragaman hayati.

  • Sistem Politik & Otonomi: Ia menilai sentralisasi kekuasaan membuat daerah sulit berinovasi, ditambah sistem politik yang saat ini lebih menguntungkan elite daripada publik.

"Buku ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak, bercermin, dan berani mengoreksi arah bangsa. Jika tidak sekarang, generasi mendatang yang akan menanggung dampaknya," tegas Farid.

Darurat Sungai: Ancaman Mikroplastik di Depan Mata

Melengkapi perspektif lingkungan, Amirudin dari Ecoton memaparkan fakta miris mengenai kondisi sungai-sungai besar di Pulau Jawa, khususnya Sungai Brantas. Berdasarkan data Ekspedisi Sungai Nusantara, ditemukan bahwa:

  1. Penurunan Kualitas Air: Di hulu Sungai Brantas masih ditemukan belasan jenis serangga air sensitif limbah, namun hanya dalam jarak 2 km ke hilir, spesies tersebut musnah akibat pencemaran.

  2. Polusi Mikroplastik: Sebanyak 68 sungai strategis nasional telah tercemar mikroplastik, dengan Sungai Brantas mencatatkan tingkat tertinggi.

  3. Lemahnya Penegakan Hukum: Limbah industri dan domestik terus mencemari sungai tanpa adanya pengawasan ketat dan efek jera bagi pelanggar.

Harapan untuk Masa Depan

Diskusi yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan harapan besar agar gerakan literasi seperti yang dilakukan FTBM Jombang mampu mendorong perubahan nyata. Peserta berharap kegelisahan yang dibahas dalam bedah buku ini dapat terdengar oleh pembuat kebijakan, sehingga lahir inovasi pembangunan yang lebih manusiawi dan ramah lingkungan dimulai dari tingkat daerah.

Subscribe Youtube

Postingan Lebih Baru Postingan Lebih Baru Postingan Lama Postingan Lama

Related Posts

💬 Kolom Komentar

💬 Komentar | Tanya

Memuat komentar...